Kisah ini dimulai beberapa hari yang lalu. Saat itu, HP milik Bunda berbunyi. Yang menelpon adalah seorang wanita, mengaku berasal dari Jember, dan memaksa mengajak Bunda berkenalan. Selama beberapa hari selanjutnya, perempuan itu berkali-kali menelpon dan bertanya dengan tidak sopan. Bahkan saat Bunda sedang dalam acara pengajian.
Pada akhirnya, perempuan itu mengirim pesan kepada Bunda dengan kata-kata yang kasar. Menuduh Bunda me-miss call serta menggoda suaminya. Katanya, 'tahu diri, orang yang kau miss-call itu sudah punya istri dan 4 anak'. Reaksi Bunda sudah bisa ditebak, langsung marah dan mengomel panjang. Sayangnya, Bunda-ku ini GapTek. Jadi kalau disuruh membalas SMS atau balas meneror perempuan yang menelponnya, beliau tidak mau. Maunya ngomel saja di hadapan kami, anak-anaknya.
Penyelidikan lebih lanjut Bunda lakukan. Selain kami -anak-anak Bunda-, hanya satu orang lain yang mengetahui nomor HP Bunda. Orang itu adalah saudara sepupu Bunda, salah seorang pamanku. Yang kebetulan istrinya berada di Jember. Yang kebetulan punya 4 orang anak.
Saat berikutnya pamanku itu menelpon Bunda, Bunda langsung menceritakan teror yang ia terima. Pamanku pun berkata, akan segera menanyakan hal tersebut kepada istrinya.
Baru saja HP Bunda berbunyi. Telepon dari nomor yang meneror Bunda, kami biarkan tanpa kami angkat. Lalu ia mengirim pesan, minta maaf atas tindakannya. Karena di HP pamanku, ternyata nomor Bunda disimpan dengan nama "Nomor Yayangku".
...
Kalau sudah begini, salah siapa, coba? -_-;;
Yah, bagaimanapun juga, kami sih cuma bisa tertawa. At least for today, Counter-terorist win!
Saturday, August 30, 2008
Monday, August 25, 2008
Copied this from Ipeh's Blog
Visit Ipeh's blog to see her version.
=====
You Can Only Type One Word:
Where is your cell phone?
-bed
Boyfriend/girlfriend?
-yup
Your hair?
-thick
Your favorite thing?
-books
Your dream last night?
-forgot
Your favorite drink?
-tea
The room you're in?
-lonely
Your last ex?
-nevermind
Your fear?
-butterfly
Where were you last night?
-Here
What you're doing right now?
-waiting
Do you like muffins?
-yup (Ah! A talking muffin!)
Where did you grow up?
-Bandung
The last thing you did?
-Pierron
What are you wearing?
-glasses
Your TV?
-turned-off
Your pet or pets?
- Romell
Your computer?
-On
Your Life?
-troublesome
Your Mood?
-annoyed
Missing someone?
-kinda
Your vehicle?
-Feet
Your work?
-euh
Like someone?
-yup
Color?
-black
When is the last time you laughed?
-recently
How many people do you trust?
-few
Person(s) you trust?
-Dearest
Siblings or Elders?
-plenty
Best feature?
-smile
Sport?
-archery
====
...bosan...
=====
You Can Only Type One Word:
Where is your cell phone?
-bed
Boyfriend/girlfriend?
-yup
Your hair?
-thick
Your favorite thing?
-books
Your dream last night?
-forgot
Your favorite drink?
-tea
The room you're in?
-lonely
Your last ex?
-nevermind
Your fear?
-butterfly
Where were you last night?
-Here
What you're doing right now?
-waiting
Do you like muffins?
-yup (Ah! A talking muffin!)
Where did you grow up?
-Bandung
The last thing you did?
-Pierron
What are you wearing?
-glasses
Your TV?
-turned-off
Your pet or pets?
- Romell
Your computer?
-On
Your Life?
-troublesome
Your Mood?
-annoyed
Missing someone?
-kinda
Your vehicle?
-Feet
Your work?
-euh
Like someone?
-yup
Color?
-black
When is the last time you laughed?
-recently
How many people do you trust?
-few
Person(s) you trust?
-Dearest
Siblings or Elders?
-plenty
Best feature?
-smile
Sport?
-archery
====
...bosan...
Saturday, August 23, 2008
Bagiku mereka tak lebih dari sekedar pengemis
To me, they are like Vultures. Crows. Birds who prey on dead carcasses.
Yang kumaksud adalah fenomena yang kutemukan di area pemakaman, tempat istirahat terakhir Nenekku tersayang. Aku sendiri tidak tahu apa hal yang sama terjadi di area pemakaman lain. Aku harap tidak.
Di area pemakaman ini, sekelompok orang berkeliaran setiap harinya. Lalu, jika ada yang berziarah ke makam anggota keluarga mereka, orang-orang ini akan mendekat. Pura-pura rajin membantu membersihkan daerah makan, ngajak ngobrol ini itu, menawarkan jasa atau mengomentari kuburan yang ada.
Benar-benar seperti kawanan burung bangkai. Karena yang mereka incar, hanyalah uang dari keluarga yang tengah berziarah. Yang membuatku jijik, adalah apa yang terjadi saat keluarga yang berziarah tidak memberi uang. Yang terjadi pada makam nenekku.
Kami mengira, untuk apa memberi mereka uang saat mereka tak pernah mengurus makan Nenek? Untuk apa, saat mereka bertingkah seolah membersihkan makam yang tidak pernah kotor itu?
Hari ini, saat kami berkunjung ke makam Nenek, keadaannya menyedihkan. Pembatas dari batu bata yang seharusnya ada, hilang entah ke mana. Batu nisan yang ada sepasang, tinggal satu. Tanah di sekitar makam itu kering, dan tanaman yang pernah ditancapkan kakakku, juga hilang tanpa bekas.
Aku marah. Aku sedih. Aku berharap saat itu ada setitik kemampuan sihir mengalir dalam tubuhku. Ingin rasanya kuhancurkan mereka semua yang memandangi kami bak sekumpulan burung pemakan bangkai. Ingin rasanya kuhancurkan mereka, dan tersenyum puas saat burung bangkai menikmati makan malam di hadapanku.
Yang kumaksud adalah fenomena yang kutemukan di area pemakaman, tempat istirahat terakhir Nenekku tersayang. Aku sendiri tidak tahu apa hal yang sama terjadi di area pemakaman lain. Aku harap tidak.
Di area pemakaman ini, sekelompok orang berkeliaran setiap harinya. Lalu, jika ada yang berziarah ke makam anggota keluarga mereka, orang-orang ini akan mendekat. Pura-pura rajin membantu membersihkan daerah makan, ngajak ngobrol ini itu, menawarkan jasa atau mengomentari kuburan yang ada.
Benar-benar seperti kawanan burung bangkai. Karena yang mereka incar, hanyalah uang dari keluarga yang tengah berziarah. Yang membuatku jijik, adalah apa yang terjadi saat keluarga yang berziarah tidak memberi uang. Yang terjadi pada makam nenekku.
Kami mengira, untuk apa memberi mereka uang saat mereka tak pernah mengurus makan Nenek? Untuk apa, saat mereka bertingkah seolah membersihkan makam yang tidak pernah kotor itu?
Hari ini, saat kami berkunjung ke makam Nenek, keadaannya menyedihkan. Pembatas dari batu bata yang seharusnya ada, hilang entah ke mana. Batu nisan yang ada sepasang, tinggal satu. Tanah di sekitar makam itu kering, dan tanaman yang pernah ditancapkan kakakku, juga hilang tanpa bekas.
Aku marah. Aku sedih. Aku berharap saat itu ada setitik kemampuan sihir mengalir dalam tubuhku. Ingin rasanya kuhancurkan mereka semua yang memandangi kami bak sekumpulan burung pemakan bangkai. Ingin rasanya kuhancurkan mereka, dan tersenyum puas saat burung bangkai menikmati makan malam di hadapanku.
Wednesday, August 20, 2008
Perahu kecil di tengah badai
Jam wekerku menunjukkan pukul 5 pagi. Seperti biasa, aku berpikir untuk kembali tidur sejenak selesai sholat subuh. Baru saja memejamkan mata, aku bermimpi akan badai. AKu bermimpi laut bergemuruh, petir dan guntur bersahutan, serta ombak ganas memukuli dinding perahu tempatku berada.
Ternyata bukan sekedar mimpi. Aku terbangun masih mendengar keributan yang menyerupai badai. Hal yang hampir selalu terjadi saat kedua orangtuaku berada di satu ruangan yang sama. Either mereka diam, dalam hening yang tegang sebelum badai, atau keduanya mulai berteriak satu sama lain. Hari masih pagi, dan hari ini mereka sudah mulai perang mulut dengan hebat.
Masalahnya pun tetap sama. Si keparat tua yang berkata mau menceraikan ibuku, dan selalu batal melakukannya setelah puluhan kali pun ancaman itu dia ucapkan. Orang yang dengan pongah berkata ia membiayai segala hidup kami tanpa pernah menerima terima kasih ataupun balasan sedikitpun. Bahkan membiayai pendidikan kami hingga tinggi pun hanya menghasilkan anak-anak yang kurang ajar. Termasuk adik kecilku yang kuliah di luar negeri itu.
Hebat rasanya melihat bagaimana harga diri bisa membuat seseoang membelokkan kenyataan. Apanya yang membiayai, saat ibuku hampir selalu berhutang demi kami bisa hidup dan makan? Apanya yang membiayai, saat keparat tua itu lebih sering berkata, "Apa urusannya sama aku?". Di mana dia saat adikku terpaksa mengais roti dari tempat sampah untuk bertahan hidup? Di mana dia saat puluhan kali kami harus melawan sakit tanpa bantuan dokter? Di mana dia saat aku terpaksa bergantung pada teman-temanku untuk makan? Di mana dia saat orang mencibir kepadaku yang cuma anak seorang sampah sepertinya?
Kemaren, dearest heart bertanya, apa yang mendorongku meraih sukses? Dengan penuh semangat, aku menjawab. Yang mendorongku adalah impian. Aku bermimpi melihat alam semesta, karena itu aku belajar Astronomi. Aku memimpikan kebebasan, maka aku memilih sekolah yang jauh dari rumah. Aku memimpikan dunia yang bisa kusebut rumah, karena itu aku membangun Celestine Empire.
Aku bohong. Aku tak lebih dari sebuah perahu dalam badai, yang bahkan terlalu takut untuk bergerak maju saat ini. Seperti kata dearest heart beberapa saat lalu, aku seseorang yang tak mau berusaha untuk meraih apa yang kuinginkan. Buktinya, berkali-kali aku berkata ingin pindah ke Bandung, berkali-kali pula rencana itu batal.
Ada berbagai alasan yang bisa kuberikan untuk membantahnya. Tapi tidak akan kulakukan. Biarlah. Saat ini aku hanya berharap, badai ini cepat selesai.
Ternyata bukan sekedar mimpi. Aku terbangun masih mendengar keributan yang menyerupai badai. Hal yang hampir selalu terjadi saat kedua orangtuaku berada di satu ruangan yang sama. Either mereka diam, dalam hening yang tegang sebelum badai, atau keduanya mulai berteriak satu sama lain. Hari masih pagi, dan hari ini mereka sudah mulai perang mulut dengan hebat.
Masalahnya pun tetap sama. Si keparat tua yang berkata mau menceraikan ibuku, dan selalu batal melakukannya setelah puluhan kali pun ancaman itu dia ucapkan. Orang yang dengan pongah berkata ia membiayai segala hidup kami tanpa pernah menerima terima kasih ataupun balasan sedikitpun. Bahkan membiayai pendidikan kami hingga tinggi pun hanya menghasilkan anak-anak yang kurang ajar. Termasuk adik kecilku yang kuliah di luar negeri itu.
Hebat rasanya melihat bagaimana harga diri bisa membuat seseoang membelokkan kenyataan. Apanya yang membiayai, saat ibuku hampir selalu berhutang demi kami bisa hidup dan makan? Apanya yang membiayai, saat keparat tua itu lebih sering berkata, "Apa urusannya sama aku?". Di mana dia saat adikku terpaksa mengais roti dari tempat sampah untuk bertahan hidup? Di mana dia saat puluhan kali kami harus melawan sakit tanpa bantuan dokter? Di mana dia saat aku terpaksa bergantung pada teman-temanku untuk makan? Di mana dia saat orang mencibir kepadaku yang cuma anak seorang sampah sepertinya?
Kemaren, dearest heart bertanya, apa yang mendorongku meraih sukses? Dengan penuh semangat, aku menjawab. Yang mendorongku adalah impian. Aku bermimpi melihat alam semesta, karena itu aku belajar Astronomi. Aku memimpikan kebebasan, maka aku memilih sekolah yang jauh dari rumah. Aku memimpikan dunia yang bisa kusebut rumah, karena itu aku membangun Celestine Empire.
Aku bohong. Aku tak lebih dari sebuah perahu dalam badai, yang bahkan terlalu takut untuk bergerak maju saat ini. Seperti kata dearest heart beberapa saat lalu, aku seseorang yang tak mau berusaha untuk meraih apa yang kuinginkan. Buktinya, berkali-kali aku berkata ingin pindah ke Bandung, berkali-kali pula rencana itu batal.
Ada berbagai alasan yang bisa kuberikan untuk membantahnya. Tapi tidak akan kulakukan. Biarlah. Saat ini aku hanya berharap, badai ini cepat selesai.
Saturday, August 09, 2008
Cinta itu serakah
Padahal tahu, waktu yang sedikit itu adalah apa yang kami punyai untuk saat ini. Belum saatnya untuk kami selalu ada bersama, bersisian. Tetap saja merasa bahwa 4 hari 3 malam itu sangat singkat.
Padahal kadang tidak ada yang bisa atau perlu dibicarakan. Tetap saja ingin mendengar suara dearest heart setiap malam. Ingin sekedar mengucap selamat malam, sebelum memejamkan mata.
...ah...perasaan seperti ini membuatku merasa goblok...
Padahal kadang tidak ada yang bisa atau perlu dibicarakan. Tetap saja ingin mendengar suara dearest heart setiap malam. Ingin sekedar mengucap selamat malam, sebelum memejamkan mata.
...ah...perasaan seperti ini membuatku merasa goblok...
Subscribe to:
Posts (Atom)

