Sunday, July 13, 2008

How thick is blood?

"What the hell were you doing?"

She glanced his way, staring at him as he stood there on the doorway. Her face was an expressionless mask. As she raised an arm to brush a strand of loose hair, the bandage on her wrist hits him on the eye like a blazing beacon.

He rushes closer, impatient for her lack of response. "What the hell were you thinking anyway? You really wanna die that much?"

She finally noticed how he looked at her wrist with rage in his eyes. "Oh? Are you talking about this?" was her casual reply.

"Yes! Have you lost your mind?"

"No." She traced a finger over her bandaged wrist. "It was not an attempted suicide, if that what you think it was."

"Then what do you call that little act of yours?" he said, clearly infuriated.

She shrugged, drawing her knees up. She leaned her head on her knees, still gazing at him with her dark eyes. "It was simply an experiment. I wonder, you see, if I got rid of all the blood within me... Would then... Would then I cease to have a blood relation with him? Would people stop referring to me as his child? Would it make life much easier?"

As he failed to give her any answer, she smiled. "See? I was simply curious, that's all..."

*****

Maaf kalau semisal banyak kesalahan grammar dalam penggalan cerita di atas. Maaf juga kalau membaca cerita di atas membuat kalian mengira saya lagi terlibat masalah lain yang membuat saya jadi tertarik mencoba bunuh diri atau apapun.

Bukan kok. Ini cuma ide cerita yang tiba-tiba muncul di kepala, dan sayang kalau tidak diwujudkan dalam kata-kata. Cuma sebuah pertanyaan bodoh, andai saya bisa menukar semua darah dalam tubuh ini, apa kemudian saya tidak lagi punya hubungan dengan keluarga sedarah saya?

Itu saja. Cuma sebersit rasa ingin tahu. Itu saja.



Monday, July 07, 2008

Tidak sendirian

Aku hidup. Aku melangkah. Lalu melihat, jalan di depan penuh dengan rintangan. Penuh belokan, penuh kerikil, terkadang gelap dan suram. Menakutkan, membuat diri ini rasanya ingin berhenti dan menyerah. Apalagi karena aku berjalan tanpa alas kaki. Seseorang mengambil sepatuku dan membuangnya, katanya sepatu orang lain baunya nggak enak.

Tapi saya tahu, God stands with me. Aku hanya perlu terus berusaha. Aku hanya perlu terus bersyukur. Dan aku hanya perlu terus maju.

Tiba-tiba, kurasakan seseorang menggandeng tanganku. Aku menoleh dan menemukan dearest heart berdiri di sisiku. "Ada aku di sini. Aku akan selalu menemanimu," katanya. Aku percaya. Dan aku tahu, walau kadang kami berbeda pendapat, walau terkadang kami bertengkar, kami akan selalu ada untuk satu sama lain.

Lalu sosok lain muncul di sisiku. "Ayo jalan. Kamu nggak perlu menghadapi semua ini sendirian, toh? Bagi-bagi lah kalau bebanmu berat," ia berkata. Aku bahagia. Sedikit kata-kata pemberi semangat dari seorang sahabat memang selalu berarti.

Dari balik punggungku, seseorang yang lain muncul. "Kenapa lagi kau?" ia bertanya. Lalu ia menemaniku berjalan, sembari menghiburku dengan berbagai cerita dan lagu. Aku bahagia. Aku punya sahabat-sahabat yang rela membantu meringankan perjalananku. Aku punya banyak saudara, walau mereka tak berbagi darah denganku. Walau terkadang mereka membuatku kesal, kehadiran mereka adalah semangat dalam hidupku.

Karena mereka lah aku selalu bisa bersyukur. Karena mereka lah, aku selalu bisa meneruskan perjalananku. Karena itu, terima kasih kepada kalian semua. Kalian membuatku kembali sadar hari ini, aku tidak sendirian.