Saturday, June 28, 2008

Kejujuran dan kedewasaan

Orang bilang, anak kecil itu jujur. Mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan, mereka menanyakan apapun yang ingin mereka tahu, mereka bersikap apa adanya. Kadang tanpa memikirkan konsekuensi dari perkataan ataupun perbuatan mereka. Kadang tanpe memikirkan, apakah orang lain akan merasa terganggu oleh apa yang mereka katakan, atau mereka lakukan.

Orang bilang, karena itu aku masih termasuk anak kecil. Karena kadang aku bersikap jujur tanpa peduli perasaan orang lain.

Tapi, kalau menurutku, kejujuran adalah bagian dari kedewasaan. Jujur dengan menjadi diri sendiri. Jujur dengan tidak menipu orang lain ataupun diri sendiri. Karena menurut saya, hanya orang dewasa yang berani jujur memperlihatkan dirinya apa adanya kepada dunia.

Nah, jadi, saat saya jujur menjadi diri saya sendiri di dunia ini, apa memang saya masih anak kecil? Atau saya orang dewasa? Menurut kalian, mana yang benar?

Friday, June 27, 2008

Tagged by Ipeh, again

Pasti balas dendam karena entry saya sebelumnya, ya? *kekeuh*

Instructions:
1. Choose up to five of your own characters.
2. Make them answer the following questions.

I chose:
1. Laire Arien, my original story character.
2. Erin Fortezzaquila, another original story character. Her husband is Moonblade's character, Azshara Rivendare.


What's your opinion on reading and writing?

Arien: I write and read on a daily basis. I love them. She *pointing toward her author* even uses my name for the book she wrote.
Me: Yeah, because it's your story I wrote about, dear.
Arien: Which is answer enough about how much I love writing, I think. As much as my author does. =D
Erin: I like reading and writing also. But...
Me: But?
Erin: I like Shara more! =D
Me: ...gee...


What's your opinion on maths, sciences, and language(s)?

Arien: *starts talking in every language possible about her love for all kinds of knowledge*
Me: ... show off...
Erin: *starts responding in every language possible about her love for all things related to Azhsara*
Me: ...


What is the best way to learn something?

Arien: Learning by doing, that's what I always do.
Erin: Indeed. That's the best way to learn things. Especially about love. =D


To what degree do you avoid risks and danger?

Arien: Why avoid them? Risks and dangers are there to be faced. Without risks and dangers, life would be simply boring.
Erin: Agreed. Especially when the risks and dangers are related to the ones we love.
Me: You mean the one you love?
Erin: *grins* Yeah. Shara~ *starts daydreaming*

Under what circumstances would you risk your life for someone else?

Arien: Risking my life for someone else? Why not? Does it need a reason to do so?
Me: Yes, there should be a reason, so I could write it into a story.
Arien: Then YOU create the reason. I'm your character after all.
Me: True. And I don't think we need to ask her opinion on this one *points at Erin*
Erin: Who? Me? I'd do anything for Shara! =D
Me: ..yeah... just as I thought...

Under what circumstances do you think killing someone justified, in general?

Arien: In this world we're living, it's kill or be killed. I'd rather kill, thanks. Let's just call it self-defense.
Me: I thought you're the kind of person who always try to solve all problems with diplomacy?
Arien: I am. But when talk doesn't solve the problem, then, I might have to use other methods.
Erin: Me! Me!
Me: I know about you, dear lady. You killed some people even when you didn't want to, did you?
Erin: ... Hey, that's the past. It's over now, thank the Gods. Now, I only killed those who threaten our lives.
Me: ... it gets kinda creepy when you start talking seriously, you know...
Erin: Really? Oh, should I tell you about what Shara did for me last night? =D
Me: Nooooo~, spare me the details, please.

What is the worst feeling you experienced?

Arien: When I failed at things, especially at solving things through diplomatic way.
Erin: It's that one moment when I woke up to find Shara not there by my side.
Me: Hee? But he was by your side.
Erin: *glares* Oh, you know what I was talking about. Let's not talk about this further, or we will spoil the story you're still writing.
Me: Agreed.

And what is the best feeling?

Erin: Being in love with Shara! Being with Shara! I love Shara!
Me: *shoving Erin aside* Enough with her. How about you?
Arien: Being alive is the best feeling I have. Being alive, and being with my friends. And I guess, I should thank you for that, author.
Erin: I agree. Thanks, dear author.
Me: You're welcome. I like being with you guys also. Group hugs! =D

...
So it goes. Thanks for reading.

Wednesday, June 25, 2008

Saya pembohong

Beberapa hari yang lalu, temanku Fei membahas tentang orang lain di blognya. Isinya tentang bagaimana kadang perasaan tidak dibutuhkan membuat orang mendorong seisi dunia menjauh darinya. Membuat orang berlari meninggalkan tanggung-jawab, kadang-kadang.

Waktu itu, saya cuma tertawa dan menjawab bahwa orang-orang seperti itu bodoh. Mau mereka ada atau tidak, dunia memang akan selalu berputar dan berjalan seperti biasa. Yang lebih penting daripada kabur karena merasa tak diperlukan, menurut saya adalah berusaha hidup menjadi lebih baik. Bagi diri sendiri, bukan untuk dunia atau orang lain.

Saya berbohong.

Saat ini saya sedang berlari pergi dan mendorong dunia menjauh. (Ipeh's gonna hate me for saying this). Saya sedang merasa tidak berguna dan tidak diperlukan. Bukan karena banyak orang mengatakannya. Bukan karena orang tua saya sendiri yang mengatakannya. Cuma perlu satu orang untuk mengatakan hal itu, dan membuat saya merasa memang saya tidak berguna. Satu orang.

Karena sebenarnya, saya tidak perlu perhatian dari jutaan orang. Saya tidak pernah perlu pujian ataupun pengakuan jutaan orang. Yang saya perlu cuma satu orang. Lalu saat orang itu berkata saya tidak berguna, saya tidak pernah mau berusaha, buat apa lagi saya ada?

Pathetic, I know. Karena itu mending saya berhenti bicara sebelum semakin banyak yang kesal karena tulisan saya.

Oh, tapi di tengah semuanya, makasih Mit-chan. E-mail darimu kuterima dan sudah kubaca. Thanks for sharing. =)

Friday, June 13, 2008

Just when I thought things were settling down

Ada aja masalah baru. Mulai dari Bunda, yang awal tahun bilang saya bakal diijinkan pergi ke Bandung, tiba-tiba melarang saya pergi lagi. Alasannya? Tak mau ditinggal. Karena kakak (mungkin) akan pergi bekerja jauh mulai November nanti.

Alasan lain? Karena tak ada dana buat pergi-pulang ke Bandung. Padahal saya tak minta. Padahal saya tak berencana pulang untuk beberapa waktu. Padahal, giliran kakak saya yang minta pergi ke Kalimantan, dikasih tanpa argumen macam-macam.

Lalu, seseorang membuat masalah di komunitas yang kami bangun bersama. Yang membuat beberapa rencana yang sudah disusun sejak lama nyaris berantakan. Untunglah, masih lebih banyak orang yang peduli kepada sesama, daripada menuruti seseorang yang memang tidak pernah jelas kema...uannya.

Saya bersyukur, saya punya banyak teman yang baik.

Thursday, June 05, 2008

Kapan, oh kapan

Malam ini teringat potongan salah satu lagu Morning Musume yang berjudul "Joshi Kashimashi Monogatari". Kalau di-English-kan sih, artinya "Noisy girls' tale". Jadi lagu ini berkisah tentang anggota-anggota Morning Musume sendiri, tentang sifat mereka, atau hal bodoh yang mereka lakukan, atau sindiran antar sesama anggota.

Nah yang kuingat malam ini adalah sindiran para anggota kepada ketua mereka saat itu, Ida Kaori. Karena saat itu Kaori paling tua dan belum pernah punya pacar, maka yang dipertanyakan para anggota lain dalam lagu mereka adalah kapan Kaori akan menikah? Padahal, kalau kata lagunya, saat ini semua teman Kaori satu-persatu sudah menikah.

Pertanyaan yang sama yang saya tanyakan kepada diri sendiri malam ini. Dalam dua bulan ini saja, setidaknya 5 orang yang saya kenal dekat sudah, atau akan menikah. Dan dua di antara mereka lebih muda dari saya.

Bukan berarti saya ngebet ingin menikah. Bukan berarti saya tidak mensyukuri hubungan yang saya punya saat ini. Tapi, saat ini ingin rasanya saya mampir ke pintu surga, atau istana langit, atau apapun namanya tempat Tuhan berada dan mengetuk pintu. Cuma sekedar ingin bertanya dan mendapat jawaban pasti. Biar saya nggak penasaran lagi. Tuhan, giliran saya kapan, ya?