Yang terdengar di mana-mana adalah ucapan semacam "Mohon maaf lahir dan batin", serta sejenisnya. Apakah semua diucapkan dengan ikhlas, saya bertanya-tanya? Apakah semua diucapkan dengan tulus, dan pasti dilakukan? Apakah semua permintaan maaf itu diikuti dengan tindakan memperbaiki diri, dan janji untuk tidak mengulang kesalahan yang sama?
Saya sedang berusaha untuk tidak melakukannya. Mungkin terdengar sombong. Mungkin terdengar seperti sayang mencemooh arti Lebaran. Masa di hari baik seperti ini, tidak mau mengurangi dosa dengan ikhlas memaafkan orang lain? Masa, saat Tuhan saja Maha Pengampun, saya tidak mau mendekatkan diri kepada-Nya dengan mencoba menjadi seseorang yang memaafkan semua kesalahan yang pernah orang lain lakukan kepada saya?
Bukan itu. Hanya saja, kalau hal yang sama terus berulang setiap tahun, sama saja dengan bohong, kan? Kalau pada akhirnya kata maaf yang saya ucapkan itu tidak tulus, sama saja saya berbohong, kan? Perlukah saya bermaafan dengan orang-orang yang saya tahu tidak merasa bersalah, dan akan mengulangi perbuatan mereka begitu kami selesai bersalaman? Perlukah atas nama tradisi saya membohongi diri sendiri dengan mengucapkan maaf yang tidak tulus?
Saya sedang dibenci karena memilih untuk jujur pada diri sendiri. Ironis, karena yang memusuhi saya adalah orang yang mengajarkan kepada saya sejak kecil, bahwa saya harus berani membela keyakinan saya saat saya tahu saya benar. Lalu saya dibilang tidak sayang, karena memilih untuk jujur. Saya dibilang tidak sayang, karena memilih untuk mengesampingkan tradisi. Saya dibenci karena menolak ikut menyiksa diri dan berbohong. Berbohong kepada diri sendiri, juga kepada orang lain.
Lalu sebenarnya, apa sih arti lebaran buat keluargaku ini? Aku jadi tak mengerti lagi.
-natsu, yang baru saja menolak ikut mudik lebaran-
Sunday, September 28, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comments:
dejavu.
Post a Comment