Wednesday, August 20, 2008

Perahu kecil di tengah badai

Jam wekerku menunjukkan pukul 5 pagi. Seperti biasa, aku berpikir untuk kembali tidur sejenak selesai sholat subuh. Baru saja memejamkan mata, aku bermimpi akan badai. AKu bermimpi laut bergemuruh, petir dan guntur bersahutan, serta ombak ganas memukuli dinding perahu tempatku berada.

Ternyata bukan sekedar mimpi. Aku terbangun masih mendengar keributan yang menyerupai badai. Hal yang hampir selalu terjadi saat kedua orangtuaku berada di satu ruangan yang sama. Either mereka diam, dalam hening yang tegang sebelum badai, atau keduanya mulai berteriak satu sama lain. Hari masih pagi, dan hari ini mereka sudah mulai perang mulut dengan hebat.

Masalahnya pun tetap sama. Si keparat tua yang berkata mau menceraikan ibuku, dan selalu batal melakukannya setelah puluhan kali pun ancaman itu dia ucapkan. Orang yang dengan pongah berkata ia membiayai segala hidup kami tanpa pernah menerima terima kasih ataupun balasan sedikitpun. Bahkan membiayai pendidikan kami hingga tinggi pun hanya menghasilkan anak-anak yang kurang ajar. Termasuk adik kecilku yang kuliah di luar negeri itu.

Hebat rasanya melihat bagaimana harga diri bisa membuat seseoang membelokkan kenyataan. Apanya yang membiayai, saat ibuku hampir selalu berhutang demi kami bisa hidup dan makan? Apanya yang membiayai, saat keparat tua itu lebih sering berkata, "Apa urusannya sama aku?". Di mana dia saat adikku terpaksa mengais roti dari tempat sampah untuk bertahan hidup? Di mana dia saat puluhan kali kami harus melawan sakit tanpa bantuan dokter? Di mana dia saat aku terpaksa bergantung pada teman-temanku untuk makan? Di mana dia saat orang mencibir kepadaku yang cuma anak seorang sampah sepertinya?

Kemaren, dearest heart bertanya, apa yang mendorongku meraih sukses? Dengan penuh semangat, aku menjawab. Yang mendorongku adalah impian. Aku bermimpi melihat alam semesta, karena itu aku belajar Astronomi. Aku memimpikan kebebasan, maka aku memilih sekolah yang jauh dari rumah. Aku memimpikan dunia yang bisa kusebut rumah, karena itu aku membangun Celestine Empire.

Aku bohong. Aku tak lebih dari sebuah perahu dalam badai, yang bahkan terlalu takut untuk bergerak maju saat ini. Seperti kata dearest heart beberapa saat lalu, aku seseorang yang tak mau berusaha untuk meraih apa yang kuinginkan. Buktinya, berkali-kali aku berkata ingin pindah ke Bandung, berkali-kali pula rencana itu batal.

Ada berbagai alasan yang bisa kuberikan untuk membantahnya. Tapi tidak akan kulakukan. Biarlah. Saat ini aku hanya berharap, badai ini cepat selesai.

0 comments: