Kakak angkatku terus berjalan tanpa menyahut. Aku mengikuti langkahnya, menuruni tangga-tangga tanah liat yang terukir di tepian bukit. Dari belakang, aliran air dari mata air membasahi jalanan. Aku merasakan kacamataku melorot turun. Dengan satu tangan, kuperbaiki letak kacamataku. Detik berikutnya, aku sudah jatuh terduduk.
"Awas Mbak, jalannya licin," kudengar suara penduduk lokal yang sempat berpapasan dengan kami beberapa saat lalu dari arah belakang. Aku hanya bisa menghela nafas, menatap tas, celana, serta tanganku yang kotor oleh lumpur. Pulang nanti, siap-siap deh diomeli Bunda.
Akhirnya, kakak angkatku menoleh dari tepian sungai di bawah sana. "Ayo, sini. Lepas sepatumu, kita nyebrang sungai. Hati-hati, ya."
Kami menyeberangi sungai, menuju arah hulu, melewati tanah yang basah dan lembek. Dan beberapa menit kemudian, untuk kedua kalinya aku kembali jatuh. Payah nih, sudah tidak selincah dulu rupanya.
***
Sudah hampir dua tahun lewat sejak terakhir kali aku jalan-jalan di alam liar bersama teman-temanku. Pagi ini, aku bangun dan menemukan kakak angkatku di rumah. Kami berdua mengalami kebosanan, dan dia mengusulkan untuk jalan-jalan. Awalnya sih, ingin mengunjungi candi-candi di daerah Tumpang, tapi batal karena kami berdua tidak hapal jalan. Lalu, Mas Ardi malah mengusulkan main ke sumber-sumber air di daerah masa kecilnya, Singasari.
Sebelum pergi, kami menghubungi temanku, Toton. Berhubung dia punya kamera, dan juga senang jalan-jalan, kami mengajak Toton ikut juga. Bertiga, dengan naik 2 sepeda motor, dan tas penuh perbekalan hasil merampok warung milik Toton, kami berangkat.
Pemberhentian pertama adalah rumah pamannya kakak angkatku. Di sana kami menitipkan motor, lalu berjalan melewati pematang sawah. Sempat melihat beberapa ekor kerbau, serta puluhan bebek yang ribut. Lalu sampailah kami di tebing tanah liat yang membuatku jatuh karena licin.
Kakak angkatku mengeluh terus-menerus sementara kami menjelajahi sungai itu. Bukan, bukan karena kebodohanku yang jatuh sampai dua kali. Itu sih sepertinya cukup menjadi hiburan tersendiri untuk kakak angkatku serta temanku. Aku sih tidak terlalu peduli, walau celanaku kotor, pantatku sedikit terasa dingin, tapi hatiku senang.
Kami mengeluh, sedih melihat tumpukan sampah plastik setinggi kira-kira 5 meter di dekat sungai. Tepat di dekat salah satu mata air sungai itu. Apakah tumpukan itu hasil dari ketidak-pedulian, ataukah kurangnya pengetahuan penduduk akan dampaknya terhadap alam? Kami tidak tahu. Tapi pemandangan yang kami lihat tadi benar-benar membuat kami ingin menangis. Terutama bagi kakak angkatku, yang dulu sering bermain di sungai yang pernah indah itu.
Pemberhentian kami selanjutnya adalah di rumah saudara jauh kakak angkatku, lebih naik ke lereng gunung dari tempat sebelumnya. Kembali di sana kami titipkan motor, setelah Mas Ardi sejenak bersilaturahmi. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali. Menyusuri jalan pedesaan yang menanjak, di antara bentangan sawah-sawah luas.
Tiba-tiba saja kakak angkatku berbelok, memasuki pematang sawah di sisi kanan jalan. Setelah melewati jalanan menurun yang cukup tajam, yang untungnya tidak licin, kami sampai di tempat kedua. Bata rubuh.
Tempat ini adalah situs pemandian jaman kerajaan singasari dulu. Kabarnya, hingga sekarang masih kerap digunakan untuk ritual oleh orang-orang tertentu. Satu tempat yang paling menarik buatku, adalah cekungan pemandian yang kini airnya sudah surut. Kata kakak angkatku, konon dulu pemandian di bawah pohon tua itu adalah tempat Ken Dedes dan Tunggul Ametung mandi. Hmm, seperti apa ya adegan romantis jaman kerajaan dulu? =p
Katanya, situs tersebut dinamakan Bata Rubuh, karena ditemukan tanah bata atau tanah merah yang berguguran dari atas ke bawah. Seperti bangunan bata yang habis dirubuhkan. Walau tidak diketahui pasti, apakah bata merah tersebut sebenarnya fenomena alam, atau memang bukan?
Puas melihat pemandian tua serta kepiting air tawar berebut daun di dalam air, kami kembali berjalan. Tak jauh dari pemandian itu, ada sebuah mata air yang juga kabarnya sering digunakan untuk ritual khusus. Sumber Naga, namanya. Di tempat ini, di tepian sungai yang penuh dengan batu-batuan besar, kami beristirahat.
Kali ini, dengan bertelanjang kaki aku pergi menjelajah. Menuruni lereng, mendaki bebatuan, dan bermain air. Tanpa sekalipun jatuh. Kami sempat main-main di sebuah ceruk utama dari sumber air tersebut. Menyenangkan mengamati detail curahan air di atas bebatuan berlumut, sembari merasakan dinginnya air membelai kaki.
Dari tempat itu, setelah cukup lama duduk menikmati alam, kami kembali pulang. Sebenarnya, kami pulang membawa cukup banyak foto dalam kamera milik Toton. Sayangnya, berhubung sesampai kami di rumahku listrik sedang mati, transfer data foto gagal dilakukan.
Besok, rencananya kami akan melakukan perjalanan lain. Kali ini, kami membawa orang keempat, calon istri kakak angkatku. Tunggu ceritaku selanjutnya, ya.
Oh, dan coba lihat apa yang kutemukan di tengah sawah setelah terjatuh dua kali di tepian sungai. Semoga hari ini menyenangkan buat kalian semua.


1 comments:
waii yotsuba..
Post a Comment